Lo-fi, dari sebuah kekurangan, menjadi sebuah style musik.

Lo-fi, atau Low Fidelity, merupakan sebuah teknik rekaman yang tidak berada digaris standar rekaman music pada umumnya. Pada sebuah rekaman lo-fi, sound tidak terdengar jelas, dan banyak sekali noise yang terdengar. Bagi sebagian orang itu jelas terdengar mengganggu, namun siapa sangka malah ada beberapa musisi yang menerapkan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Guided By Voices dan Pavement adalah beberapa band yang pertama kali dengan sengaja menggunakan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Album Slanted & Enchanted dari Pavement, atau Bee Thousand dari Guided By Voices merupakan album mereka yang paling saya suka. Dan lagu-lagu di album tersebut menggunakan teknik lo-fi, sehingga terdengar cult. Dan di era modern sekarang, masih ada band-band yang menggunakan teknik lo-fi. Sebut saja Wavves, Beach Fossils, Wild Nothing, No Age dan band dream pop favorit saya, The Pain of Being Pure at Heart.
Seperti ketika pada tahun 1950-an Jean-Luc Godard menciptakan film di era French New Wave sebagai kemuakan Jean-Luc Godard dkk terhadap industri film yang busuk, mereka meninggalkan segala studio equipment dan menggunakan home video camera. Melakukan shoot langsung dijalanan tanpa tri-pod dan tidak melakukannya di studio dengan matahari palsu. Namun, sebenarnya alasan mereka tidak menggunakan studio equipment, adalah karena alasan dana. Namun ini merupakan sebuah terobosan baru di jamannya, sebuah art-style minimalis dan personal yang justru punya citra dan cahayanya sendiri. Begitupun dengan musik lo-fi, mungkin memang ada sebagian yang menggunakan teknik lo-fi karena alasan dana, namun menurut saya, banyak band yang menggunakan teknik lo-fi, mengacu kepada movement yang lebih dulu dilakukan oleh Jean-Luc Godard. Yaitu sebagai simbol kebosanan mereka terhadap ulasan-ulasan musik busuk para produser gendut yang lebih mementingkan uang dibanding kualitas penyanyi. Mereka percaya bahwa menciptakan musik bukan hanya dengan high tech equipment atau hanya untuk sell out, namun mereka semata hanya ingin menciptakan musik yang pure dari kreatifitas dan idealisme mereka, terlepas dari bagaimana tanggapan pendengar jika mereka menciptakan musik tersebut. Toh, mereka masih memiliki fans setia mereka dan para media pun menjadikan album-album mereka sebagai albums of the year-nya.
Musik lo-fi yang diciptakan Wavves, Beach Fossils, Youth Lagoon dll, memiliki kualitas musikalitas yang baik. Coba saja dengarkan Beach Fossils di album debut mereka, Beach Fossils yang langsung menjadi perhatian beberapa media seperti Pitchfork. Atau Wavves, yang kualitas lo-fi nya termasuk pada kategori busuk di album Wavves & Wavvves. Namun, apakah Wavves akan dilirik label Fat Possum, atau headlining Barcelona Primavera Sound Festival —yang mana Nathan Williamas hanya diam di panggung karena kebanyakan menenggak cocktail dan Valium, hingga bertengkar dengan Ryan Ulsh dipanggung— jika di album pertama mereka menggunakan high-tech recording equipment? Karena bagi saya, musik lo-fi disini sudah menjadi ciri khas band-band tersebut. Bayangkan saja jika Youth Lagoon memiliki kualitas sound yang jernih, apakah album mereka akan menjadi pembicaraan seperti sekarang?
Lo-fi disini, yang pada awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir karena alasan dana, telah berubah menjadi suatu style sound atau bahkan genre yang diperhitungkan dan memiliki massa yang cukup banyak. Berterimakasihlah kepada band-band pendahulu lo-fi seperti Guided By Voices, Pavement dan Dinosaur Jr, karena album-album meraka lah yang menjadi tolak ukur bagi band-band lo-fi sekarang, tentang bagaimana cara memainkan indie rock, dengan teknik lo-fi yang sebenarnya.
Oleh Mirza P. Wardhana (dari berbagai sumber)
Mirza.hello@ymail.com
Artwork by Roni Tresnawan
8 Notes/ Hide
-
ranannisrun-o likes this
-
bergeraklambat reblogged this from ranannisrun
-
ranannisrun reblogged this from versezine
-
ranannisrun likes this
-
xoneofourx likes this
-
versezine posted this
