/page/2
Coming up #1 Journal Sunday,25 March 2012 at Backyard Cafe, Kemang, Jakarta.Be there fellas!

Coming up #1 Journal Sunday,25 March 2012 at Backyard Cafe, Kemang, Jakarta.Be there fellas!

Showcase album Under The Big Bright Yellow Sun: “Painting Of Life” Awesome!

Sedih, bahagia, senang, kecewa, gembira, dan resah adalah sebagian kecil dari jutaan warna rasa dalam hidup. Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) pun menggambarkannya

lewat album “Painting of Life”. Warna-warna dalam hidup tersebut kemudian diwakili ke dalam tujuh lagu, yaitu “Breath Symphony”, “Circus Traveling Show”, “Golden Day (Finally Found)”, “Robotics”, “Happiness Between Us”, “Time is Near”, dan “Threshold”.

 

Komeng (gitar), Eza (gitar), Ranyay (gitar), Didi (bass), dan Iben (drum) meluncurkan album ini setelah mengeluarkan album split bersama Sparkle Afternoon dalam “We Sit Under The Big Bright Yellow Sun in The Sparkle Afternoon” pada 2010 silam. Setelah diluncurkan dalam bentuk CD fisik pada November 2011, album “Painting of Life”. juga dirilis dalam bentuk digital download di iTunes di bawah bendera Indotunes sejak Februari 2012.

 

Lima orang pelukis/ilustrator, Mufti “Amenk” Priyanka, Iwan Bagja Dermawan, Koko, Oet, dan Gin Gin, kemudian digaet UTBBYS untuk membantu mendeskripsikan setiap pesan dalam lagu-lagu yag mereka ciptakan. Album tersebut bahkan meraih top selling album di minggu awal penjualannya. Bahkan lagu “Time Is Near” juga dinobatkan sebagai the most popular artist song.

 

“Lagu ini mengilustrasikan fase kedewasaan dimana orang sudah kenal ketuhanan dan buang-buang waktu itu mubazir. Jadi pengingat diri kita juga sih. ‘Wah time is near nih. Get up, get up, mandi!’. Intinya sih semua yang ada di album kami lebih mengingatkan kepada diri sendiri,” kata Komeng memaparkan “Time Is Near”.

 

Bertempat di Gedung Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Jalan Buah Batu, Bandung pada Jumat (2/3) malam lalu, UTBBYS mengadakan showcase dengan dibuka oleh The Matilda Tor Tor, Pancasura, dan Space and Missile. Setelah disapa dengan tiga rangkaian opening act, UTBBYS pun hadir dan memberikan nuansa penyambutan melalui “Breath Symphony” dan “Circus Traveling Show”. Tangga nada pentatonis dengan ketukan-ketukan khas tanah parahyangan rupanya ikut bermain disini. Suatu langkah menarik untuk berekspresi sambil tetap mempertahankan identitas kesundaan dalam karya.

 

Selanjutnya “Robotics”, single yang sudah disebar sebelum album ini dirilis, kemudian diberikan dan bersambung dengan “Golden Day (Finally Found)”. Ada langkah gelap-terang-gelap ketika akhirnya “A Life in A Day” disajikan. Saling sahut antar gitar seperti mewakili keinginan untuk berteriak dan membuat lagu ini semakin menghentak dalam otak. Semacam ada aliran gelisah yang melompat-lompat, namun tidak sampai memabukkan.

Sensasi itu pun rupanya masih berlanjut saat mereka menyandingkannya dengan “Kim (Misery is Butterfly)”. Ada energi luar biasa ketika mereka kemudian melanjutkan malam pasca hujan tersebut dengan  “Happiness Between Us”. Kerlap kerlip bunyi yang disampaikan UTBBYS rupanya sanggup menyemburkan emosi kepada semua penonton. Tanpa henti mereka terus menggebrak panggung melalui “Time Is Near” lalu disudahi dengan “Threshold”. Band yang telah konsisten bergerak sejak tahun 2007 ini pun terasa semakin mantap menancapkan dirinya dalam skena musik post rock tanah air.

Semburat visual yang matang, rangkaian nada-nada emosional, repetan sensasi yang sanggup membuat merinding, serta performance yang mengagumkan. Cukup satu kata untuk menyimpulkannya: awesome! ***

Oleh : Hanifa Paramitha Siswantie

Foto : Rangga Fajar

Mewarnai Kehidupan bersama Under the Big Bright Yellow Sun

Sebuah gigs yang sangat total dan intim, itu yang bisa saya terjemahkan dari showcase “Painting Of Life”-nya Under the Big Bright Yellow Sun. Showcase yang diadakan di gedung pertunjukan Sunan Ambu STSI di bilangan Buah Batu ini. Sebuah acara yang membuka bulan Maret dengan sangat apik. Painting of Life ini merupakan acara yang dibuat untuk memperkenalkan lagu-lagu yang ada di album terbaru UTBBYS ini. Dengan The Matilda Tortor (proyek alter ego dari Angkuy Bottlesmoker), Pancasura, dan Space and Misille, sebagai opening act mereka yang notabene berbeda genre-nya, Painting of Life menyuguhkan sebuah harmonisasi dalam perbedaan. The Matilda Tortor dengan musik eksperimental noise, Pancasura dengan perpaduan jazz dan musik tradisional sunda, dan Space and Misille dengan post-rock instrumental (yang menurut saya hanya mereka yang musiknya sama dengan UTBBYS), mereka dengan sangat apik membuka showcase ini. Acara yang dijadwalkan dimulai pada pukul 19.00 ini molor selama satu jam, entah disengaja, atau memang menunggu penonton memenuhi venue. Karena memang ketika saya masuk venue pada pulu 19.00, suasana venue masih sepi. Kursi-kursi yang tersedia masih kosong, hanya beberapa orang yang sudah menempati kursi paling depan. Dan sekitar pukul 20.00-an, venue sudah penuh. Akhirnya narator memulai acara dan ketika tirai di panggung terbuka, Angkuy dengan The Matilda Tortor-nya pun telah bersiap memulai acara. Angkuy dengan menggunakan topeng seperti Sleep Party People, memainkan alat-alatnya hingga tercipta musik noise yang unik, kelam dan menaikan tensi penonton. Setelah tiga lagu ia mainkan, Pancasura pun onstage. Menampilkan musik jazz yang dipadukan dengan instrumen tradisional sunda seperti kendang & suling, mereka dengan apik membawakan lagu-lagu dari beberapa musisi-musisi kenamaan luar negeri. Setelah Pancasura, Space and Misille menjadi band pembuka terakhir di acara Painting of Life ini. Space and Misille sangat minim ber-interaksi dengan audience, atau apresiator seperti yang narator sebutkan. Setelah Space and Misille selesai, tirai di tutup sejenak, sembari menunggu Under The Big Bright Yellow Sun mempersiapkan alat-alat mereka. Tirai kembali dibuka, Komeng (gitar), Eza (gitar), Ranyay (gitar), Didi (bass) dan Iben (drum) telah berada di atas panggung. Lagu Breath Symphony menjadi lagu pertama yang mereka bawakan. Lagu ini cukup membuat suasana Gedung Sunan Ambu menjadi panas. Teknik bowing yang sempurna dimainkan oleh Komeng. Lagu ini sukses menyambut penonton dengan sangat sempurna. Dilanjutkan dengan lagu Circus Travelling Show, yang juga merupakan lagu dari album perdana mereka. Saya juga menambahkan visual berupa video di belakang set sebagai nilai plus di showcase ini, yang menemani 6 menit alunan sunyi-bising-sunyi bising dari UTBBYS ini dibawakan. Kemudian Robotics dibawakan, dan jujur, saya memberikan acungan jempol sebanyak-banyaknya kepada Iben sang drummer yang dengan total dan sangat atraktif menjaga tempo lagu selama show ini berlangsung. Klimaksnya menurut saya adalah ketika single terbaru mereka, Life in a Day dibawakan. Lagu ini sukses menaikan tensi penonton dan membuat audience eargasme. Dan beberapa penonton bahkan menuju ke depan panggung untuk menari secara teatrikal di bawah hentakan musik ambient pada lagu tersebut. Penampilan UTBBYS ditutup oleh lagu Threshold. Terlihat jelas bagaimana perjalanan mereka sejak tahun 2007 yang konsisten menyajikan musik instrumental post-rock bagi telinga-telinga penikmat scene tersebut di Bandung. Sekali lagi, Painting of Life merupakan sebuah show yang total dan intim yang sukses mewarnai kehidupan. Hail, Under the Big Bright Yellow Sun!

Oleh: Mirza P. Wardhana

Foto: Mirza P. Wardhana

Selamat Datang Chillwave/Glo-fi

Munculnya jenis musik menjadi hal yang menarik kala ini. Melihat munculnya definisi kata Chillwave. Chillwave/glo-fi definisi untuk musik yang mengunakan effects processingsynthesizersloopingsamplingdengan tekstur suara vocal yang tipis dan melodi yang sederhana [1]. Definisi yang diambil dari situs Wikipedia walaupun dalam penjelasan tersebut menyebutkan Chillwave sebagai bentuk suara yang diambil dari musik 80an beserta  ciri khas musik ambient, shoegaze dan modern pop. Beberapa band ataupun artis yang mendapat istilah ini Toro Y Moi, Neon Indian, Washed Out dan Ariel Pink.

Informasi yang saya berikan diatas bisa dianggap bentuk umum dari Chillwave. Walaupun saya lebih suka mengarahkan Chillwave sebagai bentuk teknik rekaman yang mengarah kepada nenek buyutnya yaitu lo-fi. Saya berkesimpulan seperti ini karena istilah Chillwave pertama kali muncul dari blog bernama Hipster Runoff mendeskripsikan seperti di bawah ini:

like something playing in the background of an old VHS cassette that you found in your attic from the late ’80s/’90s.”

Hipster Runoff mendeskripsikan Chillwave “seperti latar suara kaset VHS tahun 80an dan 90an akhir yang di temukan di loteng.” Hal utama yang menyebabkan saya berkesimpulan Chillwave masih memiliki kaitan dengan teknik rekaman suci milik indie yaitu lo-fi. Chillwave bisa kita kategorikan sebagai seni postmodern karena memakai nilai-nilai lama yang di munculkan kembali dalam ranah yang baru. Istilah ini baru populer di barat tahun 1970an, yaitu dalam bidang arsitektur, tari, drama, seni lukis, film dan musik. Jadi, melalui seni istilah ini menjadi popular. Istilah ini pun dipertentangkan dalam dengan istilah modern. Seni yang disebut modern kala ini menjaga kemurniaannya untuk jatuh menjadi hiburan popular yang bersifat masal. Seni modern mengikuti standar formal dan berusaha mempertahankan kebudayaan luhur dari masa silam. Sedangkan postmodern justru mendukung kebudayaan masal dan berusaha menghancurkan ekslusif yang muncul dalam seni modern. Pemberontakan macam ini sudah dirintis sejak tahun 1960an sebagai counter culture. Batas kebudayaan elite dan kebudayan masa di hancurkan dalam seni post modern.[2] Definisi ini saya gunakan karena lo-fi dianggap sebagai seni modern yang bersifat ekslusif dan memiliki batasan karena hanya digunakan oleh musisi indie saja lalu munculnya glo-fi sebagai bentuk postmodern yang menghilangkan batasan tersebut dan menyebabkan hilangnya batas dari kebudayaan elite dan kebudayaan massa yang terjaga dalam indie lo-fi yang memunculkan glo-fi. Penarikan kesimpulan yang saya ambil karena sering munculnya perdebatan yang saya temukan di blog ataupun forum yang membahas apakah itu Chillwave/glo-fi.

Saya meminjam kesimpulan dari sebuah buku berjudul Toward a Holistic Interpretation of Musical Genre Clasification oleh Chris Kemp bahwa definisi genre musik harus bersifat menyeluruh dan multifungsi, juga mengeksplorasi dalam konteks ruang dan waktu. Genre musik itu bersifat dinamik karena tidak terikat keadaan, walaupun sering munculnya perubahan suara yang terjadi karena ide yang berkembang dan genre musik selalu berelasi dengan artis, industri, media, dan konsumen. Hal-hal ini yang menyebabkan banyaknya interpretasi dalam genre musik saat ini.

Perdebatan mengenai istilah baru ini merupakan hal yang jamak dan telah dialami oleh beberapa genre musik sebelum Chillwave. Seperti munculnya istilah grunge, shoegaze, emo dll menjadi salah satu perdebatan tanpa akhir yang kerap membuat musisi terperangkap dalam genre musik yang mereka mainkan. Media berperan besar dalam pembentukan istilah seperti Chillwave/glo-fi alami saat ini. Apakah hal ini menyebabkan HipsterRunoff  dapat di salahkan karena membuat istilah seenakanya? Tidak juga karena ini adalah dinamika yang sering terjadi dalam munculnya istilah musik saat ini.

 

Ilfan Akbar

ilfan_akbar@yahoo.com

Artwork by ORI

[2] Budi, F Hardiman.2009.Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu,Masyarakat,Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas.Yogyakarta.Kanisius.

Cherry Midnight Blossom.

Ready to explore the dream pop landscape?

Dream pop, is a genre characterized by an overall subdued atmosphere. From the vocals to the melodies. Producing a dream-like, sleepy, or spacious feel. Offering a more ethereal voices and blanketing feel.

Dream pop does not rely on “walls of sound” (as in shoegaze) or heavily distorted and driving guitars (as in noise pop). With echo, reverb and delay effect to create swirling, melodic and soft-noisy music.

“While shoegaze come from attitude, dream pop is the real genre, characterized your music.”

1. Slowdive – Alison

    Let’s leave it to Rachel Goswell when it comes to lure you to sleep and dream

    tonight.

2.       Cocteau Twins – Carolyn’s Finger

Emang ngga ada yang bias ngalahin kombinasi Robin Guthrie dan Elizabeth Fraser.

3.       My Bloody Valentines – Strawberry Wine

Yes Kevin Shield’s dream pop voices for their Ecstasy and Wine Album.

4.       Pale Saints – Half Life, Remembered

“Some will never know it’s taste”

5.       The Daysleepers – Big Sleep

Super talented musicians from big apple city.

6.       Secret Shine – Love Blind

Sarah Record’s best dream pop music.

7.       Pia Fraus – Mooie Island

Six Estonian’s art school fellow play dream pop music with attitude.

8.       Airiel – Liquid Paper

Serius, ini harus ada di setiap playlist kalian. Dream pop and shoegaze’s sounds battling around.

9.       Fleeting Joys – The Break Up

Swirling guitars, layers of noise, drugged out soft male and female voices going back and forth.

10.    Chapterhouse – Breather

Dream pop yang semangat, delay and reverb totally into it.

11.   Astrobrite – Crasher

Scott Cortezz’s solo project. Talented person out of nowhere.

12.   Ghost Society – Better Days

Teman – teman Denmark nya Jonas Bjerre yang tak kalah juaranya.

13.   Malory – Beauty

The German dream pop comes alive. Set your bed comfortly to face your dream tonight.

14.   Moscow Olympics – Still

Fillipino’s indie pop goes to dream pop. Very amusing.

15.   Auburn Lull – Steady Lights

The music that could drag you into slow to stop motion.

16.   Airiel – Rainflower

Talented people from Chicago, listen it well while watching raindrop falls from your window.

 Download

mixtape by Wita aditya

artwork by Roni Tresnawan

Ekspresi: Kunci Perayaan Segala Rasa

Senang, sedih, riang, marah, gembira, galau, gelap, dan muram. Setiap ekspresi yang hadir memiliki kadar emosi tersendiri yang merupakan tumpahan rasa seseorang. Bagaimana rasa itu tertumpah ruah dapat disalurkan dengan berbagai macam cara, salah satunya bermusik. Maka tak heran apabila ada yang menanggap bahwa musik adalah medium pengungkapan ekspresi.

Dalam bermusik, proses penggambaran ekspresi  berhubungan erat dengan aspek “how”, bukan “what” dan “why”. Tak peduli apa yang menjadi penyebab hadirnya emosi. Tak perlu dipertanyakan juga kenapa semua itu bisa terangkat melalui sebuah ekspresi yang beragam.  Hanyalah sebuah cara dan bagaimana metode  setiap alunan nada mampu  memasuki ranah pikiran masing-masing individu.

Stimulus bebunyian menembus alam pikiran membuat si pendengar memasrahkan diri untuk menerima terpaan musik  yang mendatanginya. Mungkin inilah yang membuat para penikmat musik merasa kerasukan denyut musikal yang dianggap sebagai bahasa dalam mengekpresikan diri. Ekspresi bisa dipahami juga sebagai pesan. Kejelasan pesan yang disampaikan akan menyebabkan penikmat musik dapat menerima makna sesuai maksud si pembuat pesan tersebut. Oleh karena itu, setiap pesan tentu harus ditampilkan secara jelas dari segi gaya bahasa. Dalam pengungkapan ekspresi, musiklah yang menjadi gaya bahasanya.

Beberapa orang yang awam dengan postrock mungkin akan menemukan sebuah kejutan pribadi ketika mengenalnya lebih jauh. Ada sebuah alur perjalanan yang entah sengaja atau tidak membentuk satu cerita pendek dalam sebuah lagu. Alur dikemas sedemikian rupa dengan membawa diri melewati suatu atmosfer tertentu secara perlahan. Sembari beradaptasi dengan atmosfer baru tersebut, tensi mulai naik dan terus menanjak menjejak puncak hingga klimaks terasa. Tak berapa lama, tensi diturunkan secara merangkak hingga akhirnya diri kembali menginjak tanah. Selama beberapa menit, momen tersebut mungkin bisa dibilang singkat. Namun bagi yang meresapinya lebih dalam, pengalaman tadi tentu penuh hawa baru yang memunculkan energi tersendiri.

Seperti ada pola komunikasi yang khas antara iringan musik dengan penikmat musik, begitu pun dengan postrock. Efek komunikasi musikal dari genre ini memang tergantung dari sejauh mana si penikmat musik itu memperhatikan, menerima, atau menolak terpaan bunyi yang ada. Toh terbukti dengan minimnya lirik sebagai pengantar pesan ternyata tidak memengaruhi musical mood setiap pendengarnya. Rentetan bebunyian dengan berbagai ritme yang membentuknya masih sanggup membangun dunia musikal  tersendiri dalam diri setiap orang. Diam, menutup mata, menghembuskan asap rokok, headbanging, atau sekedar berdiri mematung sambil menerawang adalah pilihan berkespresi yang bisa hadir bersamaan atau muncul sendirian. Semuanya sama: merayakan rasa.  ***

By Hanifa Paramitha Siswanti

Artwork By Roni Tresnawan

Kebaruan Dari Nilai-Nilai Lama

“Musik postrock tidak jauh dari musik rock namun lebih menawarkan komposisi yang baru. Bisa dibilang kalau band postrock adalah band rock yang bertransformasi karena unsur-unsur yang digunakannya menciptakan rock dengan rasa berbeda.” – Aji Gergaji, vokalis Themilo

Di negeri ini, postrock mengalami ‘perkembangbiakan’ yang amat pesat. Tampaknya tak perlu dibeberkan lagi band mana saja yang menjatuhkan dirinya  mengikuti gravitasi postrock sebagai jalur yang dijalaninya. Mereka berekspresi dan mengungkapkan identitas bermusiknya kepada dunia. Komunitas pun terbentuk dan di sanalah mereka saling melengkapi satu sama lain dengan pertukaran informasi dan dukungan terhadap idealisme bermusik. Salah satunya adalah Komunitas Postrock Indonesia yang baru saja menelurkan kompilasi teranyarnya bertajuk “Hope and Dreams (2012)”.

Hope dimaksudkan sebagai harapan yang diidamkan di dunia, sedangkan mimpi ini merupakan bunga tidur yang  dialami setiap orang. Mimpi tak pernah hadir tanpa adanya sebuah harapan yang bersanding dengan impian. Manusia akan melangkah dengan pasti dalam menjalani kehidupan di dunia dengan harapan yang dipikulnya di masa depan. Setiap orang pasti bermimpi. Pun berharap akan impian.

Adalah Sepatu Usang, Watch The Clouds, Scenic, Cuaca Mendung, Asphoria, my violainé morning, Little Space Donkey, Distorsi Alam Timur, Under The Big Bright Yellow Sun, Bow,  Angina, dan Others yang mewarnai kompilasi tersebut. Beragamnya asal daerah band yang terlibat dalam kompilasi ini seakan memperlihatkan bahwa postrock sudah menyebar dan tampaknya akan semakin mengakar pula di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

Mengutip pernyataan Besemer dan Treffirger dari kacamata psikologi, bahwa kebaruan adalah sejauh mana produk itu baru dalam jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, atau konsep baru yang terlibat. Jika diterapkan dalam hal ini, postrock dianggap sebagai produk pembaharuan dari sang pendahulu yang sudah duluan berkecimpung mengarungi dunia rock. Ia mengalami proses yang dianggap baru seperti menggunakan instrumen rock dengan memasukan unsur-unsur yang menjadi karakter masing-masing band seperti elektronik, jazz, ambient,  dan lainnya.

Selanjutnya secara bertahap ia juga bergerak dengan memakai teknik gress melalui riff dan chord yang kerap mengisi komposisi lagu. Tak hanya itu, formula quite/loud dan build up crescendo pun turut dirangkul dengan mengakhirinya melalui dentingan klimaks yang (mungkin) sulit didefinisikan. Nilai orisinalitas tersebut merupakan sesuatu hal yang sempat dianggap langka sebelum akhirnya bisa perlahan merangkak naik pada warsa 2000-an. Formula yang menjadi dasar bagi komposisi itu membuat banyaknya integrasi warna lain seperti klasik atau math yang membuat postrock mampu melahirkan ragam sub-sub genre di dalamnya.

Quote yang diucapkan Aji Gergaji di awal tulisan ini melukiskan bahwa ada nilai baru dalam jalur rock dengan komposisi inovatif untuk membentuk kemasan bermusik dengan rasa yang baru pula. Transformasi musik yang berjalan secara perlahan namun signifikan tersebut semakin menancapkan taji postrock dalam kancah permusikan. Postrock bukanlah musik eksklusif yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Semakin banyaknya anak muda yang akrab dengan musikalisasi postrock seakan menyerukan kepada dunia bahwa genre ini semakin diterima. ***

By Hanifa Paramitha Siswanti (siswanti.hanifa@gmail.com) 

Artwork By Roni Tresnawan

An Interview With Raindrops and The Sunshower


Maghrib sekitar jam enam saya menemukan sumber dan orang terpercaya untuk ngomongin tentang scene post rock saat ini. Namanya Randy Ramadhan gitaris dari Raindrop and The Sunshower. Dalam wawancara kali ini ada sedikit kendala, tidak bertemunya dua orang pecinta post rock karena sang tukang wawancara baru tahu si Randy RaTS ini tetap berada di jatinangor walaupun musim liburan telah tiba di kampus jatinangor.

Permintaan maaf sang tukang wawancara “Yah, maklum lah saya kira si Randy RaTS klo liburan yah pulang ke rumah orang tua.”

Berikut selintingan wawancara kami di YM

Tukang wawancara mengetik “assalamualaikum wr wb”

Randy RaTS balas mengetik ”walaikumsalam wr wb”

Setelah salam hangat dari salah satu agama di Indonesia saya pun melancarkan pertanyaan pertama.

“Semejak kapan nih dengar post rock?” Tukang wawancara mulai mengajukan pertanyaan

“2005 klo pertama kali denger postrock tapi itu sebatas postrock re-invent kayak Sigur Ros, Mogwai” kata saudara Randy RaTS

“Lu jadi suka karena mendadak nge trance dengar Sigur Ros dan Mogwai yah ?” pertanyaan kedua pun muncul

Setelah agak berpikir Randy RaTS menjawab “Karena menurut gw musiknya bagus ya gw suka..gw suka saat pertama kali denger Sigur Ros sama Mogwai …dari situ gw mulai nyari tau tentang postrock itu sendiri…”

Pertanyaan ketiga merupakan himpunan kekuatan setelah lari meminta rokok dari bokap yang terangkum menjadi ” terus lu dapat referensi band post rock dari internet aja atau tau dari beberapa teman? susah enggak cari informasi post rock jam dulu?”

Randy RaTS bercerita “dua-duanya…dimana gw mulai dengerin Sigur Ros, Mogwai, trus Godspeed You black emperor nah selanjutnya dari teman2 under the big bright yellow sun yg gak sengaja kita kenal di studio cukup banyak ngasih referensi2 lain…”

 

Mencoba mengali lebih dalam mengenai leluhur post rock saya pun bertanya ” Menurut lu bener kagak sih GY!BE termasuk sebagai pioneer post rock atau mungkin ada band lain menurut lu? “

Randy RaTS berkelakar ”susah-susah gampang sih hahaha” walaupun akhirnya dia mengutarakan pendapatnya “klo pionir mungkin Bark Psychosis, Tortoise, Slint, TalkTalk…walaupun kemunculan GY!BE cukup awal…”

Pertanyaan favorit saya klo nanya orang pun saya tanyakan kepada teman saya ini ”Album post rock paling berkesan apaan nih?”

Setelah berpikir panjang munculah sebuah jawaban “Agaetis byrjun sama Takk-nya Sigur Ros, Lift your skinny fist like antenna to heavennya GY!BE,  Those Who Tell the Truth Shall Die, Those Who Tell the Truth Shall Live Forever by Eits” Eh, Ada yang enggak tahu “Eits” harap buka majalah Gaul edisi Ulin bareng Post Rock.

“Eh gimana nih raindrop? influence paling berpengaruh apaan yah?” pertanyaan kembali bergulir, tetapi hening terjadi karena ada proses sirkulasi kehidupan yang tidak layak untuk di umbar.

Jawaban datang setelah sirkulasi telah lancar “influence paling berpengaruh pasti pengalaman hidup dan fenomena yg gw tangkap dlm hidup trus gw ceritakan lewat musik..klo influence dr musik secara ga langsung pasti banyak.”

Pertanyaan bergulir ke arah paling penting “gimana nih menurut lu scene post rock di bandung? ama acara post rock paling berkesan nih?

“scene postrock bandung menurut gw cukup berkembang dimana band2 postrock di bandung bagus2 kayak UTBBYS, Ansaphone, Echolight, dll… Acara postrock paling berkesan ya Jakarta Echo Fest sama Quietloud…” Randy RaTS menjawab dengan menyebutkan salah satu acara di Bandung yang menurut saya pun bagus.

Acara introgasi pun berakhir di karenakan teman kita satu ini harus cabut menemui dosennya. Maka ,berakhirlah wawancara kali ini dengan aman dan sentosa.

By Ilfan Akbar (ilfan_akbar@yahoo.com)

Artwork By Roni Tresnawan

Lo-fi, dari sebuah kekurangan, menjadi sebuah style musik.

Lo-fi, atau Low Fidelity, merupakan sebuah teknik rekaman yang tidak berada digaris standar rekaman music pada umumnya. Pada sebuah rekaman lo-fi, sound tidak terdengar jelas, dan banyak sekali noise yang terdengar. Bagi sebagian orang itu jelas terdengar mengganggu, namun siapa sangka malah ada beberapa musisi yang menerapkan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Guided By Voices dan Pavement adalah beberapa band yang pertama kali dengan sengaja menggunakan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Album Slanted & Enchanted dari Pavement, atau Bee Thousand dari Guided By Voices merupakan album mereka yang paling saya suka. Dan lagu-lagu di album tersebut menggunakan teknik lo-fi, sehingga terdengar cult. Dan di era modern sekarang, masih ada band-band yang menggunakan teknik lo-fi. Sebut saja Wavves, Beach Fossils, Wild Nothing, No Age dan band dream pop favorit saya, The Pain of Being Pure at Heart.

Seperti ketika pada tahun 1950-an Jean-Luc Godard menciptakan film di era French New Wave sebagai kemuakan Jean-Luc Godard dkk terhadap industri film yang busuk, mereka meninggalkan segala studio equipment dan menggunakan home video camera. Melakukan shoot langsung dijalanan tanpa tri-pod dan tidak melakukannya di studio dengan matahari palsu. Namun, sebenarnya alasan mereka tidak menggunakan studio equipment, adalah karena alasan dana. Namun ini merupakan sebuah terobosan baru di jamannya, sebuah art-style minimalis dan personal yang justru punya citra dan cahayanya sendiri. Begitupun dengan musik lo-fi, mungkin memang ada sebagian yang menggunakan teknik lo-fi karena alasan dana, namun menurut saya, banyak band yang menggunakan teknik lo-fi, mengacu kepada movement yang lebih dulu dilakukan oleh Jean-Luc Godard. Yaitu sebagai simbol kebosanan mereka terhadap ulasan-ulasan musik busuk para produser gendut yang lebih mementingkan uang dibanding kualitas penyanyi. Mereka percaya bahwa menciptakan musik bukan hanya dengan high tech equipment atau hanya untuk sell out, namun mereka semata hanya ingin menciptakan musik yang pure dari kreatifitas dan idealisme mereka, terlepas dari bagaimana tanggapan pendengar jika mereka menciptakan musik tersebut. Toh, mereka masih memiliki fans setia mereka dan para media pun menjadikan album-album mereka sebagai albums of the year-nya.

Musik lo-fi yang diciptakan Wavves, Beach Fossils, Youth Lagoon dll, memiliki kualitas musikalitas yang baik. Coba saja dengarkan Beach Fossils di album debut mereka, Beach Fossils  yang langsung menjadi perhatian beberapa media seperti Pitchfork. Atau Wavves, yang kualitas lo-fi nya termasuk pada kategori busuk di album Wavves & Wavvves. Namun, apakah Wavves akan dilirik label Fat Possum, atau headlining Barcelona Primavera Sound Festival —yang mana Nathan Williamas hanya diam di panggung karena kebanyakan menenggak cocktail dan Valium, hingga bertengkar dengan Ryan Ulsh dipanggung— jika di album pertama mereka menggunakan high-tech recording equipment? Karena bagi saya, musik lo-fi disini sudah menjadi ciri khas band-band tersebut. Bayangkan saja jika Youth Lagoon memiliki kualitas sound yang jernih, apakah album mereka akan menjadi pembicaraan seperti sekarang?

Lo-fi disini, yang pada awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir karena alasan dana, telah berubah menjadi suatu style sound atau bahkan genre yang diperhitungkan dan memiliki massa yang cukup banyak. Berterimakasihlah kepada band-band pendahulu lo-fi seperti Guided By Voices, Pavement dan Dinosaur Jr, karena album-album meraka lah yang menjadi tolak ukur bagi band-band lo-fi sekarang, tentang bagaimana cara memainkan indie rock, dengan teknik lo-fi yang sebenarnya.

Oleh Mirza P. Wardhana (dari berbagai sumber)

Mirza.hello@ymail.com

Artwork by Roni Tresnawan

Interconnection 2: Tour Antar Kota Yang Hangat

Sebuah gigs kecil yang penuh dengan suka cita telah tergelar di Gedung Kesenian Solo (GKS) pada Minggu, 22 Januari 2012. Sebuah acara pembuka di awal tahun yang sangat menyenangkan ketika SRM berkolaborasi dengan Dean Street Billy’s. Awal tahun 2012 ini mungkin sebagai pertanda juga bahwa Solo kian mulai diminati para musisi Indonesia sebagai tujuan pangung bermusik mereka. Interconnection 2 merupakan sebuah tour yang digagas oleh SRM Management yang bertujuan untuk menyambung silahturahmi bermusik antar Jakarta dengan Solo. Dari Jakarta diwakili oleh Dried Cassava, L’alphalpha, serta Leonardo Ringo. Sedangkan Solo diwakili oleh Sua dan The Leon’s Labyrinth. Ketika menilik line-up yang akan meramaikan acara silahturami ini, maka sudah terbayang betapa luar biasanya acara kali ini.

Acara yang semestinya dimulai pukul 14.30 ini mendadak molor untuk waktu yang cukup lama. Listrik yang padam menjadi kendala utama ketika semua band akan melakukan sound check. Tak lama kemudian, hujan lebat mengguyur Solo namun crowd di Solo tidaklah takut dengan hujan, banyak yang berdatangan menuju GKS ketika hujan mengguyur. Orang orang memadati GKS yang merupakan sebuah studio film jaman dulu. Pukul 17.00 sound check usai dan saatnya Interconnection 2 dimulai.

Sua’ menjadi band pertama yang membuka Interconnection 2 pada sore kali itu. Sua merupakan band pop yang lain dari pada lainnya. Ketika band pop pada umunya berbicara tentang cinta, kasih sayang, dan kegalauan risalah hati dengan lirik yang renyah, maka Sua menggebrak paradigma musik pop tersebut. Sua dengan musiknya berbicara tentang alam, kondisi sosial masyarakat kita, serta keluh kesah masyarakat pada umumnya dengan lirik yang penuh dengan tendensi pesan yang berbobot. Lirik-lirik yang mereka gunakan pun cukup berbeda dengan lirik musik pop pada umumnya. Sekilas mendengarkan Sua seperti mendengarkan Iwan Fals dikala muda. 3 Lagu Sua bawakan dan tentu saja ini mendapatkan respon yang cukup luar biasa dari para penonton Interconnection 2. Bahkan di belakang panggung sendiri, beberapa orang dari Jakarta terkesima dan kagum dengan musik Sua.

Usai Sua membuka Interconnection 2, kini giliran The Leon’s Labyrinth yang memanaskan tensi penonton. Band pop rock asal Solo yang beranggotakan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums),  Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar), berhasil menghentak penonton Interconnection 2 dengan musik yang mereka bawakan.Ketika dulu saya pernah menulis The Leon’s Labyrinth merupakan band yang biasa saja, tampaknya mereka malam ini membuktikan bahwa mereka bukan band yang biasa-biasa saja. Penampilan The Leon’s Labyrinth kali ini lebih perkasa baik secara musikalitas dan penampilan mereka. Pada Interconnection 2 kali ini, The Leon’s Labyrinth lebih bersemangat dan sound yang dihasilkan jauh lebih bertenaga. Kemudian distorsi yang mereka hadirkan lebih bersih dan sangat enak di telinga. Sang vokalis The Leon’s Labyrinth, Yanu N. Wibisono, tampak lebih bergairah malam ini. Dengan kacamata gelap yang dikenakan, Yanu tampak selayaknya Jon Bon Jovi sebagai vokalis The Leon’s Labyrinth.

Usai sudah 2 local heroes asal Solo memanaskan acara silahturahmi kali ini, saatnya rombongan dari Jakarta yang mengambil alih panggung. Dried Cassava didaulat menjadi pembuka pertama. Band ini berpersonilkan Baskoro Adhijuwono (Vocalist), Nandie Daniel (Guitarist), Bana Drestanta (Bassist) dan Kago Mahardono (Drumer). Dried Cassava merupakan Band alternative Funk Rock yang dijamah oleh Blues, cukup liar dan penuh dengan noise. Tak banyak yang dapat saya ceritakan untuk band ini karena saat band ini bermain saya sedang keluar untuk melaksanakan ibadah Magrib. Tapi berdasarkan pengelihatan saya saat Dried Cassava sedang sound check, band ini akan penuh dengan kejutan sound-sound yang mereka buat berbalut dengan skill yang sangat mumpuni. Dan tampaknya tebakan saya tak salah ketika saya kembali kedalam venue, tampak wajah penonton tampak puas menyaksikan Dried Cassava.

Kini Saatnya L’alphalpha yang saatnya ‘unjuk gigi’. L’alphalpha merupakan band yang paling di tunggu oleh crowd Interconnection 2. Mengusung Post Rock yang disentuh dengan shoegaze membuat band ini sangat patut untuk di simak.

Untuk kualitas bagaimana musikalitas mereka, tak perlulah meragukan mereka. Berbagai apresiasi sudah mereka dapatkan, bahkan Singapura pun sudah mereka sambangi. L’alphalpha beranggotakan Herald Reynaldo, Yudishtira Mahendra, Tercitra Winitya, Ildo Reynardian, Byatriasa Ega, dan Purusha Irma. Di Interconnection 2 ini, L’alphalpha membuka show dengan lagu Peace, Completeness, and welfare (Silent). Lagu pertama sukses membuat penonton sing along bersama tanpa menunggu komando. Penampilan L’alphalpha selama Interconnection 2 terbilang cukup baik dengan gimmick Herald dan suara merdu Yayas cukup memukau penonton. Bahkan pada Interconnection 2 ini, L’alphalpha menyanyikan lagu mereka yang sebelumnya tidak dibawakan di Interconnection 1. Sebagai penutup, The Day When Everything Around Us Fall Asleep and We don’t Remember How to Awake dibawakan dan gemuruh tepuk tangan membahana di GKS.

Sudah pukul 19.30 dan GKS kian memanas namun geliat penonton tidaklah kurang. Terakhir sebagai penutup pesta malam ini, para penonton yang sedari tadi terduduk kini mereka bangkit untuk menyambut Leonardo. Tak perlu waktu cukup lama untuk set alat, satu persatu anggota band yang dibawa Leonardo mulai mengisi ‘pos-pos’ mereka. Swing ‘n Jingle menjadi lagu pembuka aksi Leonardo. Sentuhan vokal berat dan beat-beat rock and roll ala Leonardo membuat penonton mulai menggerakan badannya mengikuti lagu.

Dan ketika Blatant dimainkan, Leonardo memanggil seorang bintang tamu yang menjadi backing vokalnya, yakni Mian Meuthia. Blatant berhasil membuat penonton bernyanyi dan berteriak dengan lantang. Sepanjang penampilannya, Leonardo tampak tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak, meloncat, dan berdansa dengan Gretsch ‘G5120’ kesayangannya.

Bahkan ketika penampilannya kian memanas, Leonardo masih suka berceloteh dengan jokes yang membuat perut penonton kian keram. Tak dapat disangkal bahwa Leonardo merupakan salah satu penyanyi di Indonesia dengan Showmanship terbaik. Sebagai penutup acara, Leonardo membawakan Midnight Hooray dan sukses mengajak penonton untuk bernyanyi bersama.

Jam sudah menunjukan pukul 21.00 kurang sedikit dan Interconnection 2 telah usai. Sebuah gigs kecil di Kota Budaya Solo yang sangat intim dan hangat. Sound yang pas-pasan, tanpa berikade, dan semua bisa bernyanyi berbaur bersama tanpa melihat status sosial setiap individu yang hadir disana. Kekurangan tentu saja ada namun semua kekurangan itu tertutup dengan acara yang benar-benar tahu bagaimana cara untuk bersenang-senang. Mungkin di Solo tidaklah banyak acara yang benar-bener penuh dengan tensi kesenangan namun Dean Street Billy’s dengan keterbatasannya berusaha menciptakan itu semua. Dengan membuat Interconnection 2, diharapkan Dean Street Billy’s kian berkembang dan membuat scene pop di Solo kian ramai.

Oleh Ekawan Raharja

Foto: Ekawan Raharja

        Sendang Rukmi Prameswari

Coming up #1 Journal Sunday,25 March 2012 at Backyard Cafe, Kemang, Jakarta.Be there fellas!

Coming up #1 Journal Sunday,25 March 2012 at Backyard Cafe, Kemang, Jakarta.Be there fellas!

Showcase album Under The Big Bright Yellow Sun: “Painting Of Life” Awesome!

Sedih, bahagia, senang, kecewa, gembira, dan resah adalah sebagian kecil dari jutaan warna rasa dalam hidup. Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) pun menggambarkannya

lewat album “Painting of Life”. Warna-warna dalam hidup tersebut kemudian diwakili ke dalam tujuh lagu, yaitu “Breath Symphony”, “Circus Traveling Show”, “Golden Day (Finally Found)”, “Robotics”, “Happiness Between Us”, “Time is Near”, dan “Threshold”.

 

Komeng (gitar), Eza (gitar), Ranyay (gitar), Didi (bass), dan Iben (drum) meluncurkan album ini setelah mengeluarkan album split bersama Sparkle Afternoon dalam “We Sit Under The Big Bright Yellow Sun in The Sparkle Afternoon” pada 2010 silam. Setelah diluncurkan dalam bentuk CD fisik pada November 2011, album “Painting of Life”. juga dirilis dalam bentuk digital download di iTunes di bawah bendera Indotunes sejak Februari 2012.

 

Lima orang pelukis/ilustrator, Mufti “Amenk” Priyanka, Iwan Bagja Dermawan, Koko, Oet, dan Gin Gin, kemudian digaet UTBBYS untuk membantu mendeskripsikan setiap pesan dalam lagu-lagu yag mereka ciptakan. Album tersebut bahkan meraih top selling album di minggu awal penjualannya. Bahkan lagu “Time Is Near” juga dinobatkan sebagai the most popular artist song.

 

“Lagu ini mengilustrasikan fase kedewasaan dimana orang sudah kenal ketuhanan dan buang-buang waktu itu mubazir. Jadi pengingat diri kita juga sih. ‘Wah time is near nih. Get up, get up, mandi!’. Intinya sih semua yang ada di album kami lebih mengingatkan kepada diri sendiri,” kata Komeng memaparkan “Time Is Near”.

 

Bertempat di Gedung Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Jalan Buah Batu, Bandung pada Jumat (2/3) malam lalu, UTBBYS mengadakan showcase dengan dibuka oleh The Matilda Tor Tor, Pancasura, dan Space and Missile. Setelah disapa dengan tiga rangkaian opening act, UTBBYS pun hadir dan memberikan nuansa penyambutan melalui “Breath Symphony” dan “Circus Traveling Show”. Tangga nada pentatonis dengan ketukan-ketukan khas tanah parahyangan rupanya ikut bermain disini. Suatu langkah menarik untuk berekspresi sambil tetap mempertahankan identitas kesundaan dalam karya.

 

Selanjutnya “Robotics”, single yang sudah disebar sebelum album ini dirilis, kemudian diberikan dan bersambung dengan “Golden Day (Finally Found)”. Ada langkah gelap-terang-gelap ketika akhirnya “A Life in A Day” disajikan. Saling sahut antar gitar seperti mewakili keinginan untuk berteriak dan membuat lagu ini semakin menghentak dalam otak. Semacam ada aliran gelisah yang melompat-lompat, namun tidak sampai memabukkan.

Sensasi itu pun rupanya masih berlanjut saat mereka menyandingkannya dengan “Kim (Misery is Butterfly)”. Ada energi luar biasa ketika mereka kemudian melanjutkan malam pasca hujan tersebut dengan  “Happiness Between Us”. Kerlap kerlip bunyi yang disampaikan UTBBYS rupanya sanggup menyemburkan emosi kepada semua penonton. Tanpa henti mereka terus menggebrak panggung melalui “Time Is Near” lalu disudahi dengan “Threshold”. Band yang telah konsisten bergerak sejak tahun 2007 ini pun terasa semakin mantap menancapkan dirinya dalam skena musik post rock tanah air.

Semburat visual yang matang, rangkaian nada-nada emosional, repetan sensasi yang sanggup membuat merinding, serta performance yang mengagumkan. Cukup satu kata untuk menyimpulkannya: awesome! ***

Oleh : Hanifa Paramitha Siswantie

Foto : Rangga Fajar

Mewarnai Kehidupan bersama Under the Big Bright Yellow Sun

Sebuah gigs yang sangat total dan intim, itu yang bisa saya terjemahkan dari showcase “Painting Of Life”-nya Under the Big Bright Yellow Sun. Showcase yang diadakan di gedung pertunjukan Sunan Ambu STSI di bilangan Buah Batu ini. Sebuah acara yang membuka bulan Maret dengan sangat apik. Painting of Life ini merupakan acara yang dibuat untuk memperkenalkan lagu-lagu yang ada di album terbaru UTBBYS ini. Dengan The Matilda Tortor (proyek alter ego dari Angkuy Bottlesmoker), Pancasura, dan Space and Misille, sebagai opening act mereka yang notabene berbeda genre-nya, Painting of Life menyuguhkan sebuah harmonisasi dalam perbedaan. The Matilda Tortor dengan musik eksperimental noise, Pancasura dengan perpaduan jazz dan musik tradisional sunda, dan Space and Misille dengan post-rock instrumental (yang menurut saya hanya mereka yang musiknya sama dengan UTBBYS), mereka dengan sangat apik membuka showcase ini. Acara yang dijadwalkan dimulai pada pukul 19.00 ini molor selama satu jam, entah disengaja, atau memang menunggu penonton memenuhi venue. Karena memang ketika saya masuk venue pada pulu 19.00, suasana venue masih sepi. Kursi-kursi yang tersedia masih kosong, hanya beberapa orang yang sudah menempati kursi paling depan. Dan sekitar pukul 20.00-an, venue sudah penuh. Akhirnya narator memulai acara dan ketika tirai di panggung terbuka, Angkuy dengan The Matilda Tortor-nya pun telah bersiap memulai acara. Angkuy dengan menggunakan topeng seperti Sleep Party People, memainkan alat-alatnya hingga tercipta musik noise yang unik, kelam dan menaikan tensi penonton. Setelah tiga lagu ia mainkan, Pancasura pun onstage. Menampilkan musik jazz yang dipadukan dengan instrumen tradisional sunda seperti kendang & suling, mereka dengan apik membawakan lagu-lagu dari beberapa musisi-musisi kenamaan luar negeri. Setelah Pancasura, Space and Misille menjadi band pembuka terakhir di acara Painting of Life ini. Space and Misille sangat minim ber-interaksi dengan audience, atau apresiator seperti yang narator sebutkan. Setelah Space and Misille selesai, tirai di tutup sejenak, sembari menunggu Under The Big Bright Yellow Sun mempersiapkan alat-alat mereka. Tirai kembali dibuka, Komeng (gitar), Eza (gitar), Ranyay (gitar), Didi (bass) dan Iben (drum) telah berada di atas panggung. Lagu Breath Symphony menjadi lagu pertama yang mereka bawakan. Lagu ini cukup membuat suasana Gedung Sunan Ambu menjadi panas. Teknik bowing yang sempurna dimainkan oleh Komeng. Lagu ini sukses menyambut penonton dengan sangat sempurna. Dilanjutkan dengan lagu Circus Travelling Show, yang juga merupakan lagu dari album perdana mereka. Saya juga menambahkan visual berupa video di belakang set sebagai nilai plus di showcase ini, yang menemani 6 menit alunan sunyi-bising-sunyi bising dari UTBBYS ini dibawakan. Kemudian Robotics dibawakan, dan jujur, saya memberikan acungan jempol sebanyak-banyaknya kepada Iben sang drummer yang dengan total dan sangat atraktif menjaga tempo lagu selama show ini berlangsung. Klimaksnya menurut saya adalah ketika single terbaru mereka, Life in a Day dibawakan. Lagu ini sukses menaikan tensi penonton dan membuat audience eargasme. Dan beberapa penonton bahkan menuju ke depan panggung untuk menari secara teatrikal di bawah hentakan musik ambient pada lagu tersebut. Penampilan UTBBYS ditutup oleh lagu Threshold. Terlihat jelas bagaimana perjalanan mereka sejak tahun 2007 yang konsisten menyajikan musik instrumental post-rock bagi telinga-telinga penikmat scene tersebut di Bandung. Sekali lagi, Painting of Life merupakan sebuah show yang total dan intim yang sukses mewarnai kehidupan. Hail, Under the Big Bright Yellow Sun!

Oleh: Mirza P. Wardhana

Foto: Mirza P. Wardhana

Selamat Datang Chillwave/Glo-fi

Munculnya jenis musik menjadi hal yang menarik kala ini. Melihat munculnya definisi kata Chillwave. Chillwave/glo-fi definisi untuk musik yang mengunakan effects processingsynthesizersloopingsamplingdengan tekstur suara vocal yang tipis dan melodi yang sederhana [1]. Definisi yang diambil dari situs Wikipedia walaupun dalam penjelasan tersebut menyebutkan Chillwave sebagai bentuk suara yang diambil dari musik 80an beserta  ciri khas musik ambient, shoegaze dan modern pop. Beberapa band ataupun artis yang mendapat istilah ini Toro Y Moi, Neon Indian, Washed Out dan Ariel Pink.

Informasi yang saya berikan diatas bisa dianggap bentuk umum dari Chillwave. Walaupun saya lebih suka mengarahkan Chillwave sebagai bentuk teknik rekaman yang mengarah kepada nenek buyutnya yaitu lo-fi. Saya berkesimpulan seperti ini karena istilah Chillwave pertama kali muncul dari blog bernama Hipster Runoff mendeskripsikan seperti di bawah ini:

like something playing in the background of an old VHS cassette that you found in your attic from the late ’80s/’90s.”

Hipster Runoff mendeskripsikan Chillwave “seperti latar suara kaset VHS tahun 80an dan 90an akhir yang di temukan di loteng.” Hal utama yang menyebabkan saya berkesimpulan Chillwave masih memiliki kaitan dengan teknik rekaman suci milik indie yaitu lo-fi. Chillwave bisa kita kategorikan sebagai seni postmodern karena memakai nilai-nilai lama yang di munculkan kembali dalam ranah yang baru. Istilah ini baru populer di barat tahun 1970an, yaitu dalam bidang arsitektur, tari, drama, seni lukis, film dan musik. Jadi, melalui seni istilah ini menjadi popular. Istilah ini pun dipertentangkan dalam dengan istilah modern. Seni yang disebut modern kala ini menjaga kemurniaannya untuk jatuh menjadi hiburan popular yang bersifat masal. Seni modern mengikuti standar formal dan berusaha mempertahankan kebudayaan luhur dari masa silam. Sedangkan postmodern justru mendukung kebudayaan masal dan berusaha menghancurkan ekslusif yang muncul dalam seni modern. Pemberontakan macam ini sudah dirintis sejak tahun 1960an sebagai counter culture. Batas kebudayaan elite dan kebudayan masa di hancurkan dalam seni post modern.[2] Definisi ini saya gunakan karena lo-fi dianggap sebagai seni modern yang bersifat ekslusif dan memiliki batasan karena hanya digunakan oleh musisi indie saja lalu munculnya glo-fi sebagai bentuk postmodern yang menghilangkan batasan tersebut dan menyebabkan hilangnya batas dari kebudayaan elite dan kebudayaan massa yang terjaga dalam indie lo-fi yang memunculkan glo-fi. Penarikan kesimpulan yang saya ambil karena sering munculnya perdebatan yang saya temukan di blog ataupun forum yang membahas apakah itu Chillwave/glo-fi.

Saya meminjam kesimpulan dari sebuah buku berjudul Toward a Holistic Interpretation of Musical Genre Clasification oleh Chris Kemp bahwa definisi genre musik harus bersifat menyeluruh dan multifungsi, juga mengeksplorasi dalam konteks ruang dan waktu. Genre musik itu bersifat dinamik karena tidak terikat keadaan, walaupun sering munculnya perubahan suara yang terjadi karena ide yang berkembang dan genre musik selalu berelasi dengan artis, industri, media, dan konsumen. Hal-hal ini yang menyebabkan banyaknya interpretasi dalam genre musik saat ini.

Perdebatan mengenai istilah baru ini merupakan hal yang jamak dan telah dialami oleh beberapa genre musik sebelum Chillwave. Seperti munculnya istilah grunge, shoegaze, emo dll menjadi salah satu perdebatan tanpa akhir yang kerap membuat musisi terperangkap dalam genre musik yang mereka mainkan. Media berperan besar dalam pembentukan istilah seperti Chillwave/glo-fi alami saat ini. Apakah hal ini menyebabkan HipsterRunoff  dapat di salahkan karena membuat istilah seenakanya? Tidak juga karena ini adalah dinamika yang sering terjadi dalam munculnya istilah musik saat ini.

 

Ilfan Akbar

ilfan_akbar@yahoo.com

Artwork by ORI

[2] Budi, F Hardiman.2009.Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu,Masyarakat,Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas.Yogyakarta.Kanisius.

Cherry Midnight Blossom.

Ready to explore the dream pop landscape?

Dream pop, is a genre characterized by an overall subdued atmosphere. From the vocals to the melodies. Producing a dream-like, sleepy, or spacious feel. Offering a more ethereal voices and blanketing feel.

Dream pop does not rely on “walls of sound” (as in shoegaze) or heavily distorted and driving guitars (as in noise pop). With echo, reverb and delay effect to create swirling, melodic and soft-noisy music.

“While shoegaze come from attitude, dream pop is the real genre, characterized your music.”

1. Slowdive – Alison

    Let’s leave it to Rachel Goswell when it comes to lure you to sleep and dream

    tonight.

2.       Cocteau Twins – Carolyn’s Finger

Emang ngga ada yang bias ngalahin kombinasi Robin Guthrie dan Elizabeth Fraser.

3.       My Bloody Valentines – Strawberry Wine

Yes Kevin Shield’s dream pop voices for their Ecstasy and Wine Album.

4.       Pale Saints – Half Life, Remembered

“Some will never know it’s taste”

5.       The Daysleepers – Big Sleep

Super talented musicians from big apple city.

6.       Secret Shine – Love Blind

Sarah Record’s best dream pop music.

7.       Pia Fraus – Mooie Island

Six Estonian’s art school fellow play dream pop music with attitude.

8.       Airiel – Liquid Paper

Serius, ini harus ada di setiap playlist kalian. Dream pop and shoegaze’s sounds battling around.

9.       Fleeting Joys – The Break Up

Swirling guitars, layers of noise, drugged out soft male and female voices going back and forth.

10.    Chapterhouse – Breather

Dream pop yang semangat, delay and reverb totally into it.

11.   Astrobrite – Crasher

Scott Cortezz’s solo project. Talented person out of nowhere.

12.   Ghost Society – Better Days

Teman – teman Denmark nya Jonas Bjerre yang tak kalah juaranya.

13.   Malory – Beauty

The German dream pop comes alive. Set your bed comfortly to face your dream tonight.

14.   Moscow Olympics – Still

Fillipino’s indie pop goes to dream pop. Very amusing.

15.   Auburn Lull – Steady Lights

The music that could drag you into slow to stop motion.

16.   Airiel – Rainflower

Talented people from Chicago, listen it well while watching raindrop falls from your window.

 Download

mixtape by Wita aditya

artwork by Roni Tresnawan

Ekspresi: Kunci Perayaan Segala Rasa

Senang, sedih, riang, marah, gembira, galau, gelap, dan muram. Setiap ekspresi yang hadir memiliki kadar emosi tersendiri yang merupakan tumpahan rasa seseorang. Bagaimana rasa itu tertumpah ruah dapat disalurkan dengan berbagai macam cara, salah satunya bermusik. Maka tak heran apabila ada yang menanggap bahwa musik adalah medium pengungkapan ekspresi.

Dalam bermusik, proses penggambaran ekspresi  berhubungan erat dengan aspek “how”, bukan “what” dan “why”. Tak peduli apa yang menjadi penyebab hadirnya emosi. Tak perlu dipertanyakan juga kenapa semua itu bisa terangkat melalui sebuah ekspresi yang beragam.  Hanyalah sebuah cara dan bagaimana metode  setiap alunan nada mampu  memasuki ranah pikiran masing-masing individu.

Stimulus bebunyian menembus alam pikiran membuat si pendengar memasrahkan diri untuk menerima terpaan musik  yang mendatanginya. Mungkin inilah yang membuat para penikmat musik merasa kerasukan denyut musikal yang dianggap sebagai bahasa dalam mengekpresikan diri. Ekspresi bisa dipahami juga sebagai pesan. Kejelasan pesan yang disampaikan akan menyebabkan penikmat musik dapat menerima makna sesuai maksud si pembuat pesan tersebut. Oleh karena itu, setiap pesan tentu harus ditampilkan secara jelas dari segi gaya bahasa. Dalam pengungkapan ekspresi, musiklah yang menjadi gaya bahasanya.

Beberapa orang yang awam dengan postrock mungkin akan menemukan sebuah kejutan pribadi ketika mengenalnya lebih jauh. Ada sebuah alur perjalanan yang entah sengaja atau tidak membentuk satu cerita pendek dalam sebuah lagu. Alur dikemas sedemikian rupa dengan membawa diri melewati suatu atmosfer tertentu secara perlahan. Sembari beradaptasi dengan atmosfer baru tersebut, tensi mulai naik dan terus menanjak menjejak puncak hingga klimaks terasa. Tak berapa lama, tensi diturunkan secara merangkak hingga akhirnya diri kembali menginjak tanah. Selama beberapa menit, momen tersebut mungkin bisa dibilang singkat. Namun bagi yang meresapinya lebih dalam, pengalaman tadi tentu penuh hawa baru yang memunculkan energi tersendiri.

Seperti ada pola komunikasi yang khas antara iringan musik dengan penikmat musik, begitu pun dengan postrock. Efek komunikasi musikal dari genre ini memang tergantung dari sejauh mana si penikmat musik itu memperhatikan, menerima, atau menolak terpaan bunyi yang ada. Toh terbukti dengan minimnya lirik sebagai pengantar pesan ternyata tidak memengaruhi musical mood setiap pendengarnya. Rentetan bebunyian dengan berbagai ritme yang membentuknya masih sanggup membangun dunia musikal  tersendiri dalam diri setiap orang. Diam, menutup mata, menghembuskan asap rokok, headbanging, atau sekedar berdiri mematung sambil menerawang adalah pilihan berkespresi yang bisa hadir bersamaan atau muncul sendirian. Semuanya sama: merayakan rasa.  ***

By Hanifa Paramitha Siswanti

Artwork By Roni Tresnawan

Kebaruan Dari Nilai-Nilai Lama

“Musik postrock tidak jauh dari musik rock namun lebih menawarkan komposisi yang baru. Bisa dibilang kalau band postrock adalah band rock yang bertransformasi karena unsur-unsur yang digunakannya menciptakan rock dengan rasa berbeda.” – Aji Gergaji, vokalis Themilo

Di negeri ini, postrock mengalami ‘perkembangbiakan’ yang amat pesat. Tampaknya tak perlu dibeberkan lagi band mana saja yang menjatuhkan dirinya  mengikuti gravitasi postrock sebagai jalur yang dijalaninya. Mereka berekspresi dan mengungkapkan identitas bermusiknya kepada dunia. Komunitas pun terbentuk dan di sanalah mereka saling melengkapi satu sama lain dengan pertukaran informasi dan dukungan terhadap idealisme bermusik. Salah satunya adalah Komunitas Postrock Indonesia yang baru saja menelurkan kompilasi teranyarnya bertajuk “Hope and Dreams (2012)”.

Hope dimaksudkan sebagai harapan yang diidamkan di dunia, sedangkan mimpi ini merupakan bunga tidur yang  dialami setiap orang. Mimpi tak pernah hadir tanpa adanya sebuah harapan yang bersanding dengan impian. Manusia akan melangkah dengan pasti dalam menjalani kehidupan di dunia dengan harapan yang dipikulnya di masa depan. Setiap orang pasti bermimpi. Pun berharap akan impian.

Adalah Sepatu Usang, Watch The Clouds, Scenic, Cuaca Mendung, Asphoria, my violainé morning, Little Space Donkey, Distorsi Alam Timur, Under The Big Bright Yellow Sun, Bow,  Angina, dan Others yang mewarnai kompilasi tersebut. Beragamnya asal daerah band yang terlibat dalam kompilasi ini seakan memperlihatkan bahwa postrock sudah menyebar dan tampaknya akan semakin mengakar pula di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

Mengutip pernyataan Besemer dan Treffirger dari kacamata psikologi, bahwa kebaruan adalah sejauh mana produk itu baru dalam jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, atau konsep baru yang terlibat. Jika diterapkan dalam hal ini, postrock dianggap sebagai produk pembaharuan dari sang pendahulu yang sudah duluan berkecimpung mengarungi dunia rock. Ia mengalami proses yang dianggap baru seperti menggunakan instrumen rock dengan memasukan unsur-unsur yang menjadi karakter masing-masing band seperti elektronik, jazz, ambient,  dan lainnya.

Selanjutnya secara bertahap ia juga bergerak dengan memakai teknik gress melalui riff dan chord yang kerap mengisi komposisi lagu. Tak hanya itu, formula quite/loud dan build up crescendo pun turut dirangkul dengan mengakhirinya melalui dentingan klimaks yang (mungkin) sulit didefinisikan. Nilai orisinalitas tersebut merupakan sesuatu hal yang sempat dianggap langka sebelum akhirnya bisa perlahan merangkak naik pada warsa 2000-an. Formula yang menjadi dasar bagi komposisi itu membuat banyaknya integrasi warna lain seperti klasik atau math yang membuat postrock mampu melahirkan ragam sub-sub genre di dalamnya.

Quote yang diucapkan Aji Gergaji di awal tulisan ini melukiskan bahwa ada nilai baru dalam jalur rock dengan komposisi inovatif untuk membentuk kemasan bermusik dengan rasa yang baru pula. Transformasi musik yang berjalan secara perlahan namun signifikan tersebut semakin menancapkan taji postrock dalam kancah permusikan. Postrock bukanlah musik eksklusif yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Semakin banyaknya anak muda yang akrab dengan musikalisasi postrock seakan menyerukan kepada dunia bahwa genre ini semakin diterima. ***

By Hanifa Paramitha Siswanti (siswanti.hanifa@gmail.com) 

Artwork By Roni Tresnawan

An Interview With Raindrops and The Sunshower


Maghrib sekitar jam enam saya menemukan sumber dan orang terpercaya untuk ngomongin tentang scene post rock saat ini. Namanya Randy Ramadhan gitaris dari Raindrop and The Sunshower. Dalam wawancara kali ini ada sedikit kendala, tidak bertemunya dua orang pecinta post rock karena sang tukang wawancara baru tahu si Randy RaTS ini tetap berada di jatinangor walaupun musim liburan telah tiba di kampus jatinangor.

Permintaan maaf sang tukang wawancara “Yah, maklum lah saya kira si Randy RaTS klo liburan yah pulang ke rumah orang tua.”

Berikut selintingan wawancara kami di YM

Tukang wawancara mengetik “assalamualaikum wr wb”

Randy RaTS balas mengetik ”walaikumsalam wr wb”

Setelah salam hangat dari salah satu agama di Indonesia saya pun melancarkan pertanyaan pertama.

“Semejak kapan nih dengar post rock?” Tukang wawancara mulai mengajukan pertanyaan

“2005 klo pertama kali denger postrock tapi itu sebatas postrock re-invent kayak Sigur Ros, Mogwai” kata saudara Randy RaTS

“Lu jadi suka karena mendadak nge trance dengar Sigur Ros dan Mogwai yah ?” pertanyaan kedua pun muncul

Setelah agak berpikir Randy RaTS menjawab “Karena menurut gw musiknya bagus ya gw suka..gw suka saat pertama kali denger Sigur Ros sama Mogwai …dari situ gw mulai nyari tau tentang postrock itu sendiri…”

Pertanyaan ketiga merupakan himpunan kekuatan setelah lari meminta rokok dari bokap yang terangkum menjadi ” terus lu dapat referensi band post rock dari internet aja atau tau dari beberapa teman? susah enggak cari informasi post rock jam dulu?”

Randy RaTS bercerita “dua-duanya…dimana gw mulai dengerin Sigur Ros, Mogwai, trus Godspeed You black emperor nah selanjutnya dari teman2 under the big bright yellow sun yg gak sengaja kita kenal di studio cukup banyak ngasih referensi2 lain…”

 

Mencoba mengali lebih dalam mengenai leluhur post rock saya pun bertanya ” Menurut lu bener kagak sih GY!BE termasuk sebagai pioneer post rock atau mungkin ada band lain menurut lu? “

Randy RaTS berkelakar ”susah-susah gampang sih hahaha” walaupun akhirnya dia mengutarakan pendapatnya “klo pionir mungkin Bark Psychosis, Tortoise, Slint, TalkTalk…walaupun kemunculan GY!BE cukup awal…”

Pertanyaan favorit saya klo nanya orang pun saya tanyakan kepada teman saya ini ”Album post rock paling berkesan apaan nih?”

Setelah berpikir panjang munculah sebuah jawaban “Agaetis byrjun sama Takk-nya Sigur Ros, Lift your skinny fist like antenna to heavennya GY!BE,  Those Who Tell the Truth Shall Die, Those Who Tell the Truth Shall Live Forever by Eits” Eh, Ada yang enggak tahu “Eits” harap buka majalah Gaul edisi Ulin bareng Post Rock.

“Eh gimana nih raindrop? influence paling berpengaruh apaan yah?” pertanyaan kembali bergulir, tetapi hening terjadi karena ada proses sirkulasi kehidupan yang tidak layak untuk di umbar.

Jawaban datang setelah sirkulasi telah lancar “influence paling berpengaruh pasti pengalaman hidup dan fenomena yg gw tangkap dlm hidup trus gw ceritakan lewat musik..klo influence dr musik secara ga langsung pasti banyak.”

Pertanyaan bergulir ke arah paling penting “gimana nih menurut lu scene post rock di bandung? ama acara post rock paling berkesan nih?

“scene postrock bandung menurut gw cukup berkembang dimana band2 postrock di bandung bagus2 kayak UTBBYS, Ansaphone, Echolight, dll… Acara postrock paling berkesan ya Jakarta Echo Fest sama Quietloud…” Randy RaTS menjawab dengan menyebutkan salah satu acara di Bandung yang menurut saya pun bagus.

Acara introgasi pun berakhir di karenakan teman kita satu ini harus cabut menemui dosennya. Maka ,berakhirlah wawancara kali ini dengan aman dan sentosa.

By Ilfan Akbar (ilfan_akbar@yahoo.com)

Artwork By Roni Tresnawan

Lo-fi, dari sebuah kekurangan, menjadi sebuah style musik.

Lo-fi, atau Low Fidelity, merupakan sebuah teknik rekaman yang tidak berada digaris standar rekaman music pada umumnya. Pada sebuah rekaman lo-fi, sound tidak terdengar jelas, dan banyak sekali noise yang terdengar. Bagi sebagian orang itu jelas terdengar mengganggu, namun siapa sangka malah ada beberapa musisi yang menerapkan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Guided By Voices dan Pavement adalah beberapa band yang pertama kali dengan sengaja menggunakan teknik lo-fi pada lagu-lagu mereka. Album Slanted & Enchanted dari Pavement, atau Bee Thousand dari Guided By Voices merupakan album mereka yang paling saya suka. Dan lagu-lagu di album tersebut menggunakan teknik lo-fi, sehingga terdengar cult. Dan di era modern sekarang, masih ada band-band yang menggunakan teknik lo-fi. Sebut saja Wavves, Beach Fossils, Wild Nothing, No Age dan band dream pop favorit saya, The Pain of Being Pure at Heart.

Seperti ketika pada tahun 1950-an Jean-Luc Godard menciptakan film di era French New Wave sebagai kemuakan Jean-Luc Godard dkk terhadap industri film yang busuk, mereka meninggalkan segala studio equipment dan menggunakan home video camera. Melakukan shoot langsung dijalanan tanpa tri-pod dan tidak melakukannya di studio dengan matahari palsu. Namun, sebenarnya alasan mereka tidak menggunakan studio equipment, adalah karena alasan dana. Namun ini merupakan sebuah terobosan baru di jamannya, sebuah art-style minimalis dan personal yang justru punya citra dan cahayanya sendiri. Begitupun dengan musik lo-fi, mungkin memang ada sebagian yang menggunakan teknik lo-fi karena alasan dana, namun menurut saya, banyak band yang menggunakan teknik lo-fi, mengacu kepada movement yang lebih dulu dilakukan oleh Jean-Luc Godard. Yaitu sebagai simbol kebosanan mereka terhadap ulasan-ulasan musik busuk para produser gendut yang lebih mementingkan uang dibanding kualitas penyanyi. Mereka percaya bahwa menciptakan musik bukan hanya dengan high tech equipment atau hanya untuk sell out, namun mereka semata hanya ingin menciptakan musik yang pure dari kreatifitas dan idealisme mereka, terlepas dari bagaimana tanggapan pendengar jika mereka menciptakan musik tersebut. Toh, mereka masih memiliki fans setia mereka dan para media pun menjadikan album-album mereka sebagai albums of the year-nya.

Musik lo-fi yang diciptakan Wavves, Beach Fossils, Youth Lagoon dll, memiliki kualitas musikalitas yang baik. Coba saja dengarkan Beach Fossils di album debut mereka, Beach Fossils  yang langsung menjadi perhatian beberapa media seperti Pitchfork. Atau Wavves, yang kualitas lo-fi nya termasuk pada kategori busuk di album Wavves & Wavvves. Namun, apakah Wavves akan dilirik label Fat Possum, atau headlining Barcelona Primavera Sound Festival —yang mana Nathan Williamas hanya diam di panggung karena kebanyakan menenggak cocktail dan Valium, hingga bertengkar dengan Ryan Ulsh dipanggung— jika di album pertama mereka menggunakan high-tech recording equipment? Karena bagi saya, musik lo-fi disini sudah menjadi ciri khas band-band tersebut. Bayangkan saja jika Youth Lagoon memiliki kualitas sound yang jernih, apakah album mereka akan menjadi pembicaraan seperti sekarang?

Lo-fi disini, yang pada awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir karena alasan dana, telah berubah menjadi suatu style sound atau bahkan genre yang diperhitungkan dan memiliki massa yang cukup banyak. Berterimakasihlah kepada band-band pendahulu lo-fi seperti Guided By Voices, Pavement dan Dinosaur Jr, karena album-album meraka lah yang menjadi tolak ukur bagi band-band lo-fi sekarang, tentang bagaimana cara memainkan indie rock, dengan teknik lo-fi yang sebenarnya.

Oleh Mirza P. Wardhana (dari berbagai sumber)

Mirza.hello@ymail.com

Artwork by Roni Tresnawan

Interconnection 2: Tour Antar Kota Yang Hangat

Sebuah gigs kecil yang penuh dengan suka cita telah tergelar di Gedung Kesenian Solo (GKS) pada Minggu, 22 Januari 2012. Sebuah acara pembuka di awal tahun yang sangat menyenangkan ketika SRM berkolaborasi dengan Dean Street Billy’s. Awal tahun 2012 ini mungkin sebagai pertanda juga bahwa Solo kian mulai diminati para musisi Indonesia sebagai tujuan pangung bermusik mereka. Interconnection 2 merupakan sebuah tour yang digagas oleh SRM Management yang bertujuan untuk menyambung silahturahmi bermusik antar Jakarta dengan Solo. Dari Jakarta diwakili oleh Dried Cassava, L’alphalpha, serta Leonardo Ringo. Sedangkan Solo diwakili oleh Sua dan The Leon’s Labyrinth. Ketika menilik line-up yang akan meramaikan acara silahturami ini, maka sudah terbayang betapa luar biasanya acara kali ini.

Acara yang semestinya dimulai pukul 14.30 ini mendadak molor untuk waktu yang cukup lama. Listrik yang padam menjadi kendala utama ketika semua band akan melakukan sound check. Tak lama kemudian, hujan lebat mengguyur Solo namun crowd di Solo tidaklah takut dengan hujan, banyak yang berdatangan menuju GKS ketika hujan mengguyur. Orang orang memadati GKS yang merupakan sebuah studio film jaman dulu. Pukul 17.00 sound check usai dan saatnya Interconnection 2 dimulai.

Sua’ menjadi band pertama yang membuka Interconnection 2 pada sore kali itu. Sua merupakan band pop yang lain dari pada lainnya. Ketika band pop pada umunya berbicara tentang cinta, kasih sayang, dan kegalauan risalah hati dengan lirik yang renyah, maka Sua menggebrak paradigma musik pop tersebut. Sua dengan musiknya berbicara tentang alam, kondisi sosial masyarakat kita, serta keluh kesah masyarakat pada umumnya dengan lirik yang penuh dengan tendensi pesan yang berbobot. Lirik-lirik yang mereka gunakan pun cukup berbeda dengan lirik musik pop pada umumnya. Sekilas mendengarkan Sua seperti mendengarkan Iwan Fals dikala muda. 3 Lagu Sua bawakan dan tentu saja ini mendapatkan respon yang cukup luar biasa dari para penonton Interconnection 2. Bahkan di belakang panggung sendiri, beberapa orang dari Jakarta terkesima dan kagum dengan musik Sua.

Usai Sua membuka Interconnection 2, kini giliran The Leon’s Labyrinth yang memanaskan tensi penonton. Band pop rock asal Solo yang beranggotakan Yanu N Wibisono (Vocal), Mega Rio Pandu (Drums),  Sifak Ulkarim (Bass), dan Arya P Sularto (Guitar), berhasil menghentak penonton Interconnection 2 dengan musik yang mereka bawakan.Ketika dulu saya pernah menulis The Leon’s Labyrinth merupakan band yang biasa saja, tampaknya mereka malam ini membuktikan bahwa mereka bukan band yang biasa-biasa saja. Penampilan The Leon’s Labyrinth kali ini lebih perkasa baik secara musikalitas dan penampilan mereka. Pada Interconnection 2 kali ini, The Leon’s Labyrinth lebih bersemangat dan sound yang dihasilkan jauh lebih bertenaga. Kemudian distorsi yang mereka hadirkan lebih bersih dan sangat enak di telinga. Sang vokalis The Leon’s Labyrinth, Yanu N. Wibisono, tampak lebih bergairah malam ini. Dengan kacamata gelap yang dikenakan, Yanu tampak selayaknya Jon Bon Jovi sebagai vokalis The Leon’s Labyrinth.

Usai sudah 2 local heroes asal Solo memanaskan acara silahturahmi kali ini, saatnya rombongan dari Jakarta yang mengambil alih panggung. Dried Cassava didaulat menjadi pembuka pertama. Band ini berpersonilkan Baskoro Adhijuwono (Vocalist), Nandie Daniel (Guitarist), Bana Drestanta (Bassist) dan Kago Mahardono (Drumer). Dried Cassava merupakan Band alternative Funk Rock yang dijamah oleh Blues, cukup liar dan penuh dengan noise. Tak banyak yang dapat saya ceritakan untuk band ini karena saat band ini bermain saya sedang keluar untuk melaksanakan ibadah Magrib. Tapi berdasarkan pengelihatan saya saat Dried Cassava sedang sound check, band ini akan penuh dengan kejutan sound-sound yang mereka buat berbalut dengan skill yang sangat mumpuni. Dan tampaknya tebakan saya tak salah ketika saya kembali kedalam venue, tampak wajah penonton tampak puas menyaksikan Dried Cassava.

Kini Saatnya L’alphalpha yang saatnya ‘unjuk gigi’. L’alphalpha merupakan band yang paling di tunggu oleh crowd Interconnection 2. Mengusung Post Rock yang disentuh dengan shoegaze membuat band ini sangat patut untuk di simak.

Untuk kualitas bagaimana musikalitas mereka, tak perlulah meragukan mereka. Berbagai apresiasi sudah mereka dapatkan, bahkan Singapura pun sudah mereka sambangi. L’alphalpha beranggotakan Herald Reynaldo, Yudishtira Mahendra, Tercitra Winitya, Ildo Reynardian, Byatriasa Ega, dan Purusha Irma. Di Interconnection 2 ini, L’alphalpha membuka show dengan lagu Peace, Completeness, and welfare (Silent). Lagu pertama sukses membuat penonton sing along bersama tanpa menunggu komando. Penampilan L’alphalpha selama Interconnection 2 terbilang cukup baik dengan gimmick Herald dan suara merdu Yayas cukup memukau penonton. Bahkan pada Interconnection 2 ini, L’alphalpha menyanyikan lagu mereka yang sebelumnya tidak dibawakan di Interconnection 1. Sebagai penutup, The Day When Everything Around Us Fall Asleep and We don’t Remember How to Awake dibawakan dan gemuruh tepuk tangan membahana di GKS.

Sudah pukul 19.30 dan GKS kian memanas namun geliat penonton tidaklah kurang. Terakhir sebagai penutup pesta malam ini, para penonton yang sedari tadi terduduk kini mereka bangkit untuk menyambut Leonardo. Tak perlu waktu cukup lama untuk set alat, satu persatu anggota band yang dibawa Leonardo mulai mengisi ‘pos-pos’ mereka. Swing ‘n Jingle menjadi lagu pembuka aksi Leonardo. Sentuhan vokal berat dan beat-beat rock and roll ala Leonardo membuat penonton mulai menggerakan badannya mengikuti lagu.

Dan ketika Blatant dimainkan, Leonardo memanggil seorang bintang tamu yang menjadi backing vokalnya, yakni Mian Meuthia. Blatant berhasil membuat penonton bernyanyi dan berteriak dengan lantang. Sepanjang penampilannya, Leonardo tampak tak pernah kehabisan energi untuk terus bergerak, meloncat, dan berdansa dengan Gretsch ‘G5120’ kesayangannya.

Bahkan ketika penampilannya kian memanas, Leonardo masih suka berceloteh dengan jokes yang membuat perut penonton kian keram. Tak dapat disangkal bahwa Leonardo merupakan salah satu penyanyi di Indonesia dengan Showmanship terbaik. Sebagai penutup acara, Leonardo membawakan Midnight Hooray dan sukses mengajak penonton untuk bernyanyi bersama.

Jam sudah menunjukan pukul 21.00 kurang sedikit dan Interconnection 2 telah usai. Sebuah gigs kecil di Kota Budaya Solo yang sangat intim dan hangat. Sound yang pas-pasan, tanpa berikade, dan semua bisa bernyanyi berbaur bersama tanpa melihat status sosial setiap individu yang hadir disana. Kekurangan tentu saja ada namun semua kekurangan itu tertutup dengan acara yang benar-benar tahu bagaimana cara untuk bersenang-senang. Mungkin di Solo tidaklah banyak acara yang benar-bener penuh dengan tensi kesenangan namun Dean Street Billy’s dengan keterbatasannya berusaha menciptakan itu semua. Dengan membuat Interconnection 2, diharapkan Dean Street Billy’s kian berkembang dan membuat scene pop di Solo kian ramai.

Oleh Ekawan Raharja

Foto: Ekawan Raharja

        Sendang Rukmi Prameswari

Showcase album Under The Big Bright Yellow Sun: “Painting Of Life” Awesome!
Mewarnai Kehidupan bersama Under the Big Bright Yellow Sun
Selamat Datang Chillwave/Glo-fi
Cherry Midnight Blossom.
Ekspresi: Kunci Perayaan Segala Rasa
Kebaruan Dari Nilai-Nilai Lama
An Interview With Raindrops and The Sunshower
Lo-fi, dari sebuah kekurangan, menjadi sebuah style musik.
Interconnection 2: Tour Antar Kota Yang Hangat

About:

The Journal Of Scenes

Hello Fellas,follow us if you like many kind of wonderful postrock, shoegaze, dreampop and any kind in a root. Here we are for movement and news!

Email
versezine@gmail.com

Twitter
http://twitter.com/VERSE_Zine

Contact
Irvan 085624418081

Office
Jl.Nilem 1 No.14B
Bandung, Indonesia

Following: